PENGARUH FAKTOR EKONOMI MAKRO DAN FUNDAMENTAL SAHAM
(Bagian 2)
Radio On Air Fm Kediri,
Berdasarkan penjelasan yang disampaikan di atas, maka dapat diangkat hipotesis penelitian ini sebagai berikut: H1: Suku Bunga, Current Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Return On Equity secara simultan berpengaruh terhadap return saham.. H2: Current Ratio secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.. H3: Suku Bunga secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham.. H4: Debt to Equity Ratio secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return saham.
*METODE PENELITIAN*
Rancangan Penelitian Pada penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai penelitian kausal karena penelitian ini mengkaji hubungan sebab akibat variabel satu dengan variabel lainnya (Sugiyono. 1999:12). Penelitian ini juga merupakan penelitian arsip (archival research) yang merupakan penelitian terhadap fakta yang tertulis (dokumen) yang berupa arsip data (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 1999:30).Dokumen atau arsip yang diteliti berdasarkan laporan yang telah dipublikasikan.
*Batasan Penelitian*
Penelitian ini hanya menganalisis variabel Suku bunga, Current ratio, Debt to equity ratio dan Return on equity terhadap variabel Return saham. Identifikasi Variabel Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel bebas (independent variable) yang terdiri Suku bunga, Current ratio, Debt to equity ratio dan Return on equity terhadap variabel terikat (dependent variable) yaitu Return saham :
1. Variabel Dependent adalah Return saham (Y)
2.Variabel Independent adalah Suku bunga (X1) Current ratio (X2) Debt to equity ratio (X3) Return on equity (X4)
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Berdasarkan pada identifikasi variabel yang telah disebutkan di atas, maka dapat dijelaskan definisi operasional variabel bebas dan variabel terikat pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Return saham (Y) Return saham dalam penelitian ini merupakan keuntungan yang diterima dalam investasi saham selama jangka waktu atau periode tahunan.
2.Suku Bunga (X1) Tingkat suku bunga adalah harga yang harus dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu tertentu. apabila tingkat suku bunga tinggi akan mengakibatkan investor lebih memilih menginvestasikan dananya pada SBI atau deposito daripada investasi pada saham dikarenakan deposito memiliki resiko yang lebih rendah.
3.Current Ratio (X2) Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan yang memenuhi. kewajiban jangka pendek pada saat jatuh tempo.
4. Debt to Equity Ratio (X3) Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh suatu perusahaan menggunakan sumber dana yang berasal dari hutang.
5.Return On Equity (X4) Rasio ini memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri (equity) secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham.
Data dan Metode Pengumpulan Data Penelitian ini mengambil sampel pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dengan metode dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari catatan-catatan yang ada pada Bank Indonesia serta perusahaan manufaktur yang bersumber dari data sekunder yang berupa laporan lengkap yang diperoleh dari laporan Bank Indonesia, IDX dan ICMD.
Data sekunder yang dikumpulkan adalah laporan tingkat suku bunga SBI, laporan keuangan perusahan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Adapun data yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Tingkat Suku bunga BI rate 2008–2010
2. Laporan Keuangan Perusahaan 2008– 2010
3.Harga Saham Penutupan 2008–2011
Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan hasil penelitian khususnya tentang variabel penelitian serta analisis inferensial digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian.
*ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN*
Analisis Deskriptif Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai variabel–variabel penelitian baik variabel independen maupun variabel dependen selama periode penelitian.
Berikut gambaran masing–masing variabel independen dan variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini:
1. Return saham (Y) Return saham adalah hasil yang diperoleh dari melakukan investasi saham, return saham merupakan selisih antara harga saham penutupan pada periode t dan harga saham penutupan periode t-1 ditambah dividen pada periode t kemudian di bagi dengan harga saham penutupan periode t-1. Untuk memperoleh nilai return saham (variabel dependen) digunakan data keuangan periode satu tahun setelah data keuangan variabel independen, dimulai dari tahun 2009–2011.
Di sini akan dijelaskan nilai rata–rata return saham perusahaan manufaktur, nilai return saham terendah perusahaan dan nilai return saham tertinggi perusahaan selama periode penelitian. Nilai rata–rata return saham selama periode penelitian menunjukkan nilai sebesar 0,5615 atau 56.15 persen, sedangkan nilai standard deviasi sebesar 85.78 persen.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa risiko dalam memperoleh return dalam berinvestasi pada perusahaan manufaktur tergolong cukup tinggi. Untuk perkembangan return saham masing–masing perusahaan selama periode penelitian tahun 2009–2011 yang memiliki nilai return tertinggi adalah PT. Gudang Garam Tbk sebesar 422 persen pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa investor yang menanamkan modal di PT. Gudang Garam Tbk pada periode tahun 2009 mendapatkan keuntungan yang paling besar dibandingkan investor yang berinvestasi pada perusahaan manufaktur lain selama periode 2009–2011.
Sedangkan nilai return saham terendah selama periode 2009– 2011 dimiliki oleh PT. Intikeramik Alamasri Industri Tbk sebesar -87 persen pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan investor yang menanamkan modal pada PT. Intikeramik Alamasri Industri Tbk di tahun periode 2010 mengalami kerugian paling besar di antara investor berinvestasi di perusahaan manufaktur lainnya.
2. Suku Bunga
(X1) Suku bunga merupakan faktor yang berasal dari luar perusahaan, suku bunga tidak bisa dikendalikan perusahaan. Suku bunga dalam penelitian ini menggunakan suku bunga bank Indonesia (SBI). Pada tahun 2010 diberi angka nol pada sensitivitas dikarenakan tingkat suku bunga konstan sebesar 6.5 persen. Nilai rata–rata sensitivitas suku bunga adalah sebesar -2.1334 atau 213.34 persen lebih kecil ( < ) dari nilai standard deviasi sebesar 7.15260 atau 715.260 persen.
Dari total 249 data sampel PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk yang memiliki sensitivitas suku bunga tertinggi sebesar 17.50 atau 1,750 persen pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan suku bunga mempengaruhi return PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk, apabila tingkat suku bunga naik sebesar 1 persen maka diikuti oleh kenaikan return PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk sebesar 1,750 persen. Sedangkan yang memiliki sensitivitas suku bunga terendah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk yaitu sebesar -36.50 pada tahun 2008 pada (Lampiran 2).
Hal ini menunjukkan suku bunga berpengaruh negatif terhadap return PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, apabila tingkat suku bunga naik sebesar 1 persen maka dikuti kenaikan return PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk sebesar -3,650 persen.
3. Current Ratio
(X2) Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan yang jatuh tempo atau rasio yang digunakan untuk memenuhi kemampuan perusahaan memunuhi dan membiayai hutangnya pada saat jatuh tempo.
Nilai current ratio pada penelitian ini menggunakan nilai current ratio periode 2008–2010. Nilai rata–rata current ratio perusahaan selama periode penelitian menunjukkan nilai sebesar 2.2157 atau 221.57 persen sedangkan nilai standard deviasi sebesar 1.84898 atau sebesar 184.89 persen. Dengan melihat nilai standard deviasi yang lebih kecil . sebaran relatif kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa selama periode penelitian sebagian besar aktiva lancar yang dimiliki perusahaan manufaktur yang masuk dalam sampel penelitian sudah mampu mengcover kewajiban jangka pendeknya. Untuk perkembangan current ratio selama periode penelitian, nilai current ratio tertinggi dimiliki oleh PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk pada periode 2009 sebesar 13.65 atau 1365 persen, sedangkan nilai current ratio terendah dimiliki oleh PT.Alam Karya Unggul Tbk pada periode 2010 sebesar 0.15 atau 15 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa investor yang menanamkan modal di PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk selama periode penelitian akan merasakan aman dari resiko likuidasi daripada investor yang menanamkan modal pada perusahaan manufaktur lainnya.
4. Debt to equity ratio
(X3) Rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai oleh hutang. Artinya besaran jumlah hutang yang digunakan perusahaan untuk membiayai kegiatan usahanya jika dibandingkan dengan modal sendiri.
Nilai debt to equity pada penelitian ini menggunakan nilai debt to equity perusahaan manufaktur periode 2008–2010. Nilai rata–rata debt to equity adalah sebesar 1.8807 atau 188.07 persen sedangkan nilai standard deviasi 3.56519 atau 356.51 persen. Dengan melihat nilai standard deviasi yang lebih besar dari nilai rata – rata maka data yang digunakan dalam variabel debt to equity ratio memiliki sebaran yang besar.
Perkembangan debt to equity selama periode penelitian, nilai debt to equity tertinggi dimiliki oleh PT. Argo Pantes Tbk sebesar 38.79 atau 3879 persen pada periode 2009 pada, hal ini menunjukkan bahwa PT. Argo Pantes Tbk lebih mempertimbangkan untuk menggunakan sumber dana yang berasal darihutang daripada memberdayakan modal sendiri.
Sedangkan nilai terendah debt to equity ratio selama periode penelitian dimiliki oleh PT. Beton Jaya Manunggal Tbk sebesar 0.08 atau 8 persen pada periode 2009. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Beton Jaya Manunggal Tbk lebih mempertimbangkan menggunakan sumber dana yang berasal dari modal sendiri daripada menggunakan sumber dana yang berasal dari hutang.
5. Return on equity (X4)
Rasio return on equity merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah modal yang digunakan dalam perusahaan, artinya return on equity merupakan ukuran tentang efektifitas perusahaan dalam mengelola modal sendiri untuk menghasilkan laba atau return.
Nilai return on equity pada penelitian ini menggunakan nilai return on equity perusahaan manufaktur periode 2008–2010. Nilai rata–rata return on equity adalah 0.1265 atau 12.65 persen dengan nilai standard deviasi 37.78 persen.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa risiko investor untuk mendapatkan return bagi para pemegang saham dalam berinvestasi pada perusahaan manufaktur periode 2008 – 2010 tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 37.78 persen. Sehingga menunjukkan masih banyak perusahaan yang belum mampu mengelola modal secara efektif untuk mendapatkan keuntungan bagi para pemegang saham.
Untuk perkembangan return on equity selama periode penelitian, return on equity tertinggi dimiliki oleh PT. Multi Bintang Indonesia Tbk sebesar 3.24 atau 324 persen pada periode 2009. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Multi Bintang Indonesia Tbk mampu mengelola modal secara efektif untuk mendapatkan keuntungan atau return bagi pemegang saham sehingga hal ini memberikan nilai positif bagi investor agar menanamkan modal pada PT. Multi Bintang Indonesia. Tbk.
Sebaliknya return on equity terendah dimiliki oleh PT. Argo Pantes Tbk sebesar - 2.06 atau 206 persen pada periode 2009. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Argo Pantes Tbk kurang mampu mengelola modal secara efektif untuk mendapatkan keuntungan atau return bagi pemegang saham.
Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk menguji pengaruh variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity terhadap variabel return saham baik secara simultan maupun secara parsial.
Data diolah dengan program komputer SPSS version 16.0 for windows. Berdasarkan analisis uji F dapat disimpulkan bahwa variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity secara bersama–sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel return saham, dikarenakan pada tabel 4.9 nilai signifikansi sebesar 0.002 yang artinya dibawah 0.05 atau 5 persen.
Untuk mengetahui berapa besarnya pengaruh variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity terhadap return saham dapat diketahui dengan melihat koefisien determinasi secara keseluruhan (Rsquare). Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh hasil Rsquare 0.066 menunjukkan bahwa variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity secara bersama–sama hanya mampu menjelaskan sebesar 0.066 atau 6.6 persen terhadap return saham dan sisanya 93.4 persen dijelaskan oleh faktor atau variabel lain yang tidak diteliti.
Sedangkan berdasarkan analisis uji pengujian secara parsial variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity terhadap return saham adalah sebagai berikut:
1. Suku bunga
Suku bunga merupakan faktor yang berasal dari luar perusahaan, suku bunga tidak bisa dikendalikan perusahaan Secara teori tingkat suku bunga memiliki pengaruh yang berlawanan terhadap return saham apabila tingkat suku bunga naik akan membuat sebagian investor beralih investasi dari saham menuju ke SBI atau deposito dan jika hal ini terjadi maka para investor tersebut akan menjual saham yang dimiliki dan akan mengakibatkan penurunan pada harga saham perusahaan.
Hasil pada penelitian ini sesuai dengan teori yang ada karena dalam penelitian mendapatkan hasil tingkat suku bunga secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham. Penelitian ini juga mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Ahmad yang melakukan penelitian di negara Pakistan (2010) yang menyatakan suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham.
2. Current ratio
Current ratio merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo.
Secara teori current ratio memiliki pengaruh positif terhadap return saham. Nilai current yang tinggi dapat diartikan perusahaan memiliki aktiva lancar yang cukup besar sehingga nantinya dapat digunakan untuk membayar hutang jangka pendek pada saat jatuh tempo.
Pada hasil penelitian ini didapat hasil bahwa current ratio berpengaruh positif tetapi tidak siginifikan terhadap return saham. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Alexakis (2010) yang menyatakan current ratio berpengaruh positif signifikan, namun mendukung Askam Tuasikal (2001) yang menyatakan bahwa pada perusahaan pemanufakturan rasio likuiditas tidak bermanfaat dalam memprediksi return saham satu tahun ke depan.
Hal ini mengindikasikan bahwa investor di Indonesia khususnya investor perusahaan manufaktur lebih melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba daripada melihat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo.
3. Debt to equity ratio Debt to equity ratio merupakan digunakan untuk mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai dengan hutang. Pada hasil penelitian ini didapat hasil bahwa debt to equity ratio berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham.
Terdapat teori yang menyatakan menggunakan semakin banyak hutang berarti memperbesar resiko yang ditanggung pemegang saham dan juga memperkecil tingkat pengembalian yang diharapkan sehingga berpotensi mengurangi return saham. Namun kondisi berbeda ketika debt to equity ratio yang cukup tinggi mencerminkan bahwa perusahaan yang sedang berkembang memerlukan pendanaan yang lebih besar untuk kegiatan operasional yang tidak mungkin dipenuhi oleh modal perusahaan itu sendiri, dengan asumsi perusahaan mendapatkan pengembalian yang lebih besar dibandingkan pembayaran bunga maka pengembalian atas modal pemilik akan menjadi lebih besar.
Penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alexakis di negara Yunani (2010) yang menyatakan debt to equity ratio secara parsial berpengaruh negatif signifikan akan tetapi mendukung penelitian Ulupui (2007) serta Askam Tuasikal (2001) yang menyatakan bahwa pada perusahaan pemanufakturan rasio hutang tidak bermanfaat dalam memprediksi return saham satu tahun ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa investor di Indonesia khususnya investor perusahaan manufaktur lebih melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
4. Return on equity
Return on equity merupakan ukuran tentang efektifitas perusahaan dalam mengelola modal sendiri untuk menghasilkan laba atau return. Return on equity berpengaruh positif sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa return on equity memiliki pengaruh searah dengan return saham dikarenakan semakin mampu perusahaan mengelola modal secara efektif untuk mendapatkan keuntungan atau return bagi pemegang saham sehingga dapat memberikan nilai positif bagi investor agar menanamkan modal pada perusahaan tersebut.
pada penelitian ini didapat hasil return on equity secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap return saham. Penelitian ini dapat mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alexakis di negara Yunani (2010) yang menyatakan bahwa return on equity secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.
Hasil penelitian ini sekali lagi membuktikan bahwa investor saham di Indonesia lebih melihat kemampuan menghasilkan laba perusahaan dibanding kondisi keuangan lainnya. Penelitian ini dengan menggunakan variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity terhadap return saham, mendapatkan hasil bahwa variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity secara bersama-sama mampu menjelaskan sebesar 6.6 persen terhadap return saham dan 93.4 persen dijelaskan oleh faktor atau variabel lain yang tidak diteliti.
Penyebab rendahnya kemampuan variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity menjelaskan variasi return saham bisa disebabkan oleh faktor atau variabel lain yang tidak diteliti. Dari aspek faktor makro, Sri Suyati (2010) mendapatkan hasil bahwa inflasi dan nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan dari faktor fundamental Dwi Martani,et al (2009) mendapatkan hasil bahwa Net profit margin, Total asset trunover, Price to book value berpengaruh signifikan terhadap return saham.
Demikian juga Ulupui (2007) mendapatkan hasil bahwa Return on asset berpengaruh signifikan terhadap return saham. Terakhir Ananta Tri Susetyo (2013) mendapatkan hasil bahwa Earning per share dan Price earning ratio berpengaruh signifikan terhadap return saham.
*KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN*
Kesimpulan dari penelitian ini adalah berdasarkan hasil uji F (simultan), maka diperoleh kesimpulan bahwa variabel suku bunga, current ratio, debt to equity ratio dan return on equity secara bersama– sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sedangkan berdasarkan hasil uji t (parsial), maka diperoleh kesimpulan yaitu, untuk variabel Suku bunga secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap Return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, untuk variabel Current ratio secara parsial tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dan untuk variabel Debt to equity ratio secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Return saham selama periode penelitian 2008–2010.
Untuk variabel Return on equity secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap Return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Saran yang dapat diberikan peneliti kepada perusahaan sebaiknya perusahaan meningkatkan efektifitas perusahaan dalam mengelola modal sendiri untuk menghasilkan laba atau return, sehingga dapat menarik minat investor menanamkan modal pada perusahaan tersebut karena pada penelitian ini return on equity berpengaruh positif signifikan terhadap return saham dan sebaiknya para investor juga mempertimbangkan rasio return on equity sebelum menanamkan modal pada suatu perusahaan, karena perusahaan yang memiliki nilai return on equity yang tinggi dianggap mampu mengelola secara efektif modal sendiri untuk menghasilkan laba atau return, sesuai hasil penelitian ini bahwa return on equity berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.
Ditulis oleh:
Andraawangsa Budi Sadewa
Mahasiswa Universitas muhammadiyah malang
Jurusan Ekonomi Pembangunan

Post a Comment