Kue Lumpur Arang Khas Pare Kediri Nduk D'Tha, Cita Rasa Menggugah Selera
RADIOONAIRFMPARE.COM || Kediri - Beragam jajanan tradisional terus mendapat sentuhan inovasi dari pelaku usaha kuliner. Salah satunya kue lumpur bakar Nduk D'Tha di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, yang menawarkan cara penyajian berbeda dari kue lumpur pada umumnya.
Jika biasanya kue lumpur dimasak menggunakan cetakan dengan sumber panas dari bawah atau dikukus, jajanan ini memiliki ciri khas berupa penggunaan arang sebagai sumber panas pada bagian atas kue.
Aroma asap dari arang menjadi salah satu daya tarik tersendiri ketika kue lumpur mulai dibakar. Sensasi smoky tersebut berpadu dengan tekstur lembut dan bagian tengah kue yang masih terasa lumer saat disantap.
Kue lumpur bakar Nduk D'Tha berada di Jalan PB Sudirman, Kecamatan Pare tepatnya di kawasan timur Stadion Canda Bhirawa Pare dan di depan Swalayan Dinasti.
Usaha kuliner tersebut dijalankan oleh keluarga Dita dan telah berjalan sekitar empat tahun.
Sofia Putri, anak Dita, mengatakan ide awal usaha tersebut berasal dari kegemaran sang ibu mencoba berbagai kuliner.
"Ibu itu suka kuliner. Setiap hari Minggu biasanya kulineran dari jam 4 pagi sampai malam jam 8," kata Sofia saat ditemui di kedai, Sabtu (19/9/2026).
Kegemaran tersebut membuat Dita kerap mencari dan mencicipi berbagai jajanan di sejumlah daerah. Salah satunya kue lumpur bakar yang ditemuinya di wilayah Sidoarjo dan Malang.
Dari pengalaman tersebut, muncul keinginan untuk membuat jajanan serupa dengan menyesuaikan cita rasa yang bisa diterima masyarakat di Pare.
Setelah melalui sejumlah percobaan resep, akhirnya ditemukan komposisi yang dinilai sesuai. Adonan kue lumpur bakar Nduk D'Tha dibuat dari bahan dasar santan, telur dan tepung.
Nama Nduk D'tha sendiri berasal dari nama Dita, pemilik usaha kue lumpur bakar ini.
Proses memasaknya menjadi pembeda utama dari kue lumpur lain. Adonan cair dituangkan ke dalam cetakan, kemudian bagian atasnya ditutup menggunakan tungku yang diberi arang.
Tungku bulat dengan isi arang ini dibuat sendiri dengan menyesuaikan ukuran cetakan adonan.
Panas dari arang tersebut membuat bagian atas kue matang secara perlahan. Proses itu sekaligus memberikan aroma khas asap yang menjadi karakter utama kue lumpur bakar Nduk D'Tha.
Meski sudah matang, teksturnya tidak dibuat terlalu padat. Bagian dalam kue masih terasa lembut dan sedikit lumer sehingga memberikan sensasi berbeda ketika disantap.
"Kalau di sini dari adonan cair ditutup sama tungku arang jadi padat. Tapi tidak terlalu padat, masih ada lumer-lumernya," ujar Sofia.
Untuk pilihan rasa, Nduk D'Tha menyediakan tiga varian yang dapat dipilih pembeli. Ketiganya yakni original, nangka dan kelapa muda.
Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau. Kue lumpur varian original dibanderol mulai rp 2.500 per buah, sedangkan varian nangka dan kelapa muda dijual rp 3.000 per buah.
Bagi pembeli yang ingin mencoba beberapa rasa sekaligus, tersedia paket campuran seharga rp 15.000. Dalam satu paket tersebut terdapat dua kue lumpur original, dua rasa nangka dan dua rasa kelapa muda.
Dalam sehari, produksi kue lumpur bakar Nduk D'Tha dapat mencapai sekitar 60 hingga 80 liter adonan. Dari jumlah itu, bisa menghasilkan 250 paket kue lumpur bakar. Jumlah produksi tersebut menyesuaikan dengan permintaan pelanggan setiap harinya.
Perjalanan usaha selama empat tahun membuat kue lumpur bakar tersebut mulai memiliki pelanggan tetap. Sofia mengatakan pada masa awal berjualan, sebagian pembeli masih menyesuaikan diri dengan karakter rasa dan aroma dari proses pembakaran menggunakan arang.
Namun, seiring waktu, respons pelanggan mulai berubah. Aroma smoky yang sebelumnya terasa asing justru menjadi salah satu karakter yang dicari pembeli.
"Awal-awal katanya masih mentah karena belum mengenal. Tapi sekarang sudah mantap, sudah enak," ungkapnya.
Dengan ukuran kedai 2x3 meter, para pelanggan silir berganti untuk antre mendapatkan kue lumpur bakar tersebut.
Renita, salah seorang pembeli asal Kecamatan Kepung, mengatakan dirinya cukup sering membeli kue lumpur tersebut. Ia tertarik karena jajanan itu memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kue lumpur pada umumnya.
Menurutnya, kue lumpur bakar tersebut cocok dijadikan camilan untuk dinikmati bersama keluarga. Ia biasanya membeli pada siang hari.
"Saya kerap membeli kue lumpur ini karena memang ini satu-satunya dan rasanya enak. Biasanya saya beli siang hari untuk dimakan bersama keluarga," kata Renita.
Pembeli lainnya, Ilya asal Kepung, mengetahui keberadaan kue lumpur bakar tersebut dari temannya saat mengikuti les renang di wilayah Pare.
Ia kemudian tertarik mencoba karena proses pembuatannya menggunakan arang. Menurut Ilya, penggunaan arang memberikan aroma khas yang membedakannya dari kue lumpur biasa.
"Rasanya berbeda karena ada ciri khas bau arangnya, smoky-nya. Untuk cita rasa juga memang enak," ujar Ilya.
Bagi pelaku usaha, keunikan produk menjadi salah satu modal penting untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis kuliner. Di tengah banyaknya pilihan jajanan, karakter rasa yang berbeda dapat menjadi alasan konsumen untuk kembali membeli.
Kue lumpur bakar Nduk D'Tha juga tidak hanya mengandalkan keunikan proses produksi. Konsistensi rasa menjadi perhatian agar pelanggan yang datang kembali tetap mendapatkan cita rasa yang sama.
Sofia berharap jumlah pelanggan terus bertambah tanpa menghilangkan karakter khas kue lumpur bakar yang selama ini menjadi daya tarik produknya.
Ia juga membuka peluang pengembangan usaha melalui penambahan cabang di masa mendatang.
"Semoga pelanggannya tetap balik lagi. Rasanya tetap meskipun nanti ada yang buka cabang. Semoga makin laris, makin ramai. Insya Allah kita mau buka cabang," katanya.
Saat ini, kue lumpur bakar Nduk D'Tha buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Dengan menggabungkan resep sederhana, proses pembakaran menggunakan arang dan harga yang terjangkau, kue lumpur bakar Nduk D'Tha menjadi salah satu pilihan jajanan yang menawarkan pengalaman berbeda bagi penikmat kuliner di Pare.
REPORTER : ONAIR


Post a Comment