Search
24 C
en
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Siber
Radio On Air FM Pare
ON AIR FM PARE
  • NEWS
  • DAERAH
    • Nasional
    • Jawa Timur
    • Jawa Tengah
    • Jawa Barat
    • Jakarta
  • Nasional
    • Video
  • Advertorial
  • AG 892 Streaming
  • Berita
    • Hukrim
    • Peristiwa
    • TNI
    • POLRI
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Budaya
Radio On Air FM Pare
Search
Home
radioonairfm
radioonairfm
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI - Berawal dari lahan pertanian biasa, Adimas Ketut Nalendra (36) perlahan mengubah cara bercocok tanamnya hingga menjadi peluang bisnis. Di lahan hidroponik miliknya di Dusun Tegalsari Desa Tulungrejo Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ia kini menekuni budidaya sayuran, khususnya selada kriting.

Menariknya, pria yang akrab disapa Dimas ini tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Pengetahuan mengenai hidroponik justru diperolehnya secara otodidak, ditambah dengan belajar bersama komunitas penghobi hidroponik.

Usaha hidroponik tersebut menjadi pilihan untuk mengembangkan potensi lahan sekaligus membangun sumber pendapatan dari sektor pertanian.

Salah satu lahan yang dikelolanya memiliki ukuran sekitar 10 x 20 meter. Awalnya, lahan tersebut digunakan untuk budidaya melon.

Namun, seiring berkembangnya permintaan pasar, Dimas mulai membagi produksinya antara buah dan sayuran. Area yang sebelumnya digunakan untuk melon kemudian dialihkan untuk budidaya sayuran hidroponik.

Perubahan itu tidak terjadi tanpa alasan. Sebelum menggunakan sistem hidroponik, lahan tersebut sempat ditanami berbagai tanaman seperti jagung, kacang tanah, sawi dan sayuran lainnya.

"Hasilnya masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya," kata Dimas, Jumat (18/9/2026).

Dari kondisi tersebut, ia kemudian mencoba mengubah pola bisnis pertaniannya. Sistem hidroponik dipilih karena memungkinkan produksi sayuran dilakukan secara lebih terencana dengan target panen setiap pekan.

Untuk sayuran, Dimas menargetkan panen sekitar 100 kilogram setiap minggu dari lahan di Tegalsari. Sementara untuk tanaman buah, target produksinya dirancang dengan siklus panen sekitar satu bulan sekali.

Menurutnya, produktivitas menjadi salah satu alasan utama ia bertahan menggunakan hidroponik. Dengan luasan lahan yang sama, hasil produksi hidroponik menurut pengalaman yang dijalaninya bisa mencapai lima hingga enam kali lipat dibandingkan pola tanam konvensional.

"Kalau di lahan biasa dengan hidroponik itu hasilnya bisa lima sampai enam kali lipat dari yang biasanya," ucap pria yang kini bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan wilayah Blitar.

Meski demikian, sistem hidroponik membutuhkan modal yang lebih besar pada tahap awal. Investasi diperlukan untuk membangun instalasi dan menyiapkan berbagai kebutuhan produksi.

Seiring berjalan waktu, mantan guru multimedia ini mulai merasakan manfaat dari perubahan tersebut. Selain produksi yang lebih terukur, sayuran hidroponik juga memiliki karakteristik yang menurutnya menjadi nilai tambah bagi konsumen.

Selada dan sayuran yang dihasilkan dibudidayakan dengan sistem hidroponik sehingga lebih mudah dijaga kebersihannya. Jika disimpan di dalam pendingin, sayuran produksinya bahkan dapat bertahan hingga sekitar satu minggu.

"Kalau kita bisa tahan sayur biasanya sampai satu minggu kalau di dalam cooler. Kalau tidak di dalam cooler atau di suhu ruang biasanya sampai tiga sampai empat hari," jelas pria asal Desa Badas ini.

Pasar awalnya berasal dari pelaku usaha kuliner seperti penjual kebab, gado-gado hingga makanan lainnya yang membutuhkan sayuran dalam kondisi bersih dan segar.

Namun, pasar hidroponiknya kemudian berkembang. Permintaan mulai datang dari SPPG yang membutuhkan pasokan sayuran dalam jumlah lebih besar.

Jika sebelumnya permintaan dari pelaku usaha kuliner berada di kisaran 50 kilogram per minggu, permintaan dari SPPG dapat mencapai sekitar 200 kilogram per minggu.

Kondisi tersebut membuat peluang bisnis hidroponik yang ditekuni Dimas semakin terbuka. Permintaan yang meningkat juga mendorongnya menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar.

Dari sisi pendapatan, Dimas menyebut hasil usaha sangat bergantung pada harga dan kondisi pasar. Saat harga sayuran turun, dua petak lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar rp 10 juta hingga rp 12 juta per bulan setelah dikurangi sejumlah biaya, di luar tenaga kerja.

Namun, ketika permintaan tinggi dan kondisi produksi mendukung, hasilnya bisa jauh lebih besar. Setelah Lebaran, misalnya, ia pernah mencatat produksi hingga sekitar 500 kilogram sayuran dalam satu minggu.

Dalam kondisi tersebut, pendapatan bulanan dari usaha hidroponiknya pernah mencapai sekitar rp 30 juta dengan tenaga kerja yang sama.

Meski demikian, Dimas tidak memilih strategi perang harga ketika harga sayuran di pasar konvensional sedang turun. Ia justru mengurangi produksi dan mempertahankan konsumen yang selama ini sudah menjadi pelanggan.

"Kalau kita mau perang harga, kita akhirnya yang kalah. Kita hanya mencari konsumen-konsumen yang loyal," tuturnya.

Menurut Dimas, hidroponik memang tidak selalu bisa bersaing dari sisi harga. Petani konvensional memiliki lahan yang lebih luas sehingga pada musim tertentu mampu menghasilkan sayuran dalam jumlah besar dengan harga lebih rendah.

Karena itu, ia memilih menjual keunggulan lain dari produk hidroponik, seperti kebersihan, kesegaran, dan kualitas produk. Strategi tersebut menjadi cara untuk mempertahankan pasar ketika harga sayuran mengalami fluktuasi.

Perjalanan membangun usaha hidroponik itu juga membuat Dimas harus menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan tenaga kerja yang harus dilakukan hampir setiap hari.

Berbeda dengan pertanian konvensional yang aktivitasnya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari, budidaya hidroponik membutuhkan pemantauan dan perawatan rutin. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja menjadi salah satu persoalan yang harus dikelola.

Faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Perubahan pola hujan yang tidak menentu dapat memengaruhi kondisi tanaman dan memicu munculnya kembali gangguan hama.


"Walaupun serangan hama dulu sudah minim, cuaca juga memengaruhi. Sekarang hujan sudah tidak terjadwal seperti dulu, itu juga memicu kembalinya hama," katanya.

Selain persoalan produksi, Dimas juga harus terus belajar mengenai pengelolaan usaha. Menurutnya, mengelola satu atau dua instalasi hidroponik berbeda dengan mengelola lahan yang lebih besar.

Ia harus memikirkan manajemen tenaga kerja, efisiensi pupuk, hingga kesinambungan produksi agar usaha tetap berjalan.

Apalagi, pelaku usaha hidroponik tidak mendapatkan pupuk bersubsidi seperti yang tersedia bagi sebagian petani konvensional. Harga pupuk hidroponik pun dapat mengalami perubahan sehingga efisiensi menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Bagi Dimas, perjalanan dari lahan pertanian biasa menuju hidroponik bukan sekadar mengganti metode bercocok tanam. Ia melihatnya sebagai proses mencari model usaha pertanian yang mampu menghasilkan secara lebih terukur sekaligus menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Dari belajar secara otodidak, mencoba berbagai tanaman, menghadapi naik turunnya harga, hingga membangun pasar sendiri, Dimas menunjukkan bahwa lahan pertanian dapat dikembangkan dengan pendekatan bisnis tanpa meninggalkan proses belajar.

Kini, ada beberapa titik lahan hodroponik milik Dimas dengan tanaman sayur selada dan melon. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan pengembangan kepada varietas lain dan juga melakukan opsi pembukaan lahan baru.

REPORTER: ONAIR

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe
pinterest Follow

Featured Post

Polres Ngawi dan Tim Gabungan Buat Sekat Bakar dan Dirikan Posko Antisipasi Karhutla Lawu Utara Meluas

radioonairfm- September 18, 2026 0
Polres Ngawi dan Tim Gabungan Buat Sekat Bakar dan Dirikan Posko Antisipasi Karhutla Lawu Utara Meluas
RADIOONAIRFMPARE.COM ||NGAWI – Jajaran Polres Ngawi Polda Jatim bersama tim gabungan bergerak cepat mengendalikan titik api guna mencegah meluasnya Kebakaran …

Most Popular

Polsek Kandat Gerak Cepat Gerebek Dugaan Perjudian Sabung Ayam

Polsek Kandat Gerak Cepat Gerebek Dugaan Perjudian Sabung Ayam

September 15, 2026
Pemkot Kediri Sampaikan Nota Keuangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026

Pemkot Kediri Sampaikan Nota Keuangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026

September 15, 2026
Produktivitas Jagung Manggis Jadi Perhatian, Polsek Ngancar Turun ke Lahan

Produktivitas Jagung Manggis Jadi Perhatian, Polsek Ngancar Turun ke Lahan

September 15, 2026

Recent Comments

Editor Post

Gempar Penemuan Mayat Di Kuburan Cina Dengan Pisau Tertancap Di Leher

Gempar Penemuan Mayat Di Kuburan Cina Dengan Pisau Tertancap Di Leher

July 14, 2019
Ada Terowongan Dan Sumber Mata Air Di Balik Wingitnya Kawasan Lembah Pawon Sewu Di Kediri

Ada Terowongan Dan Sumber Mata Air Di Balik Wingitnya Kawasan Lembah Pawon Sewu Di Kediri

July 15, 2019
Anak kandung Biadap Merampas kalung Ibunya untuk Foya - Foya

Anak kandung Biadap Merampas kalung Ibunya untuk Foya - Foya

July 08, 2019

Popular Post

Polsek Kandat Gerak Cepat Gerebek Dugaan Perjudian Sabung Ayam

Polsek Kandat Gerak Cepat Gerebek Dugaan Perjudian Sabung Ayam

September 15, 2026
Pemkot Kediri Sampaikan Nota Keuangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026

Pemkot Kediri Sampaikan Nota Keuangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026

September 15, 2026
Produktivitas Jagung Manggis Jadi Perhatian, Polsek Ngancar Turun ke Lahan

Produktivitas Jagung Manggis Jadi Perhatian, Polsek Ngancar Turun ke Lahan

September 15, 2026

Populart Categoris

  • Biro Bayuwangi1
  • Biro Keerom1
  • Jawa Timur616
  • Nasional4823
  • biro NTB2
  • biro Sidoarjo7
  • biro Jakarta89
  • biro Jatim1
  • biro Kediri kota165
Radio On Air FM Pare

About Us

Radio On Air Fm adalah Radio di Kediri Jawa Timur yang ingin mengangkat sejarah budaya dikota Kediri Khususnya Pare.

Contact us: onairfmpare@gmail.com

Follow Us

@2023 Radio On Air FM Pare - Kediri - Jawa Timur | Team IT : Mbah Yo
  • Redaksi
  • Tentang
  • Siber
  • Index
  • Kontak