Dinas Lingkungan Hidup Kediri Fokus pada Penanganan Jangka Panjang, Penyebab Air Putih Ploso Lor Masih Butuh Kajian
RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri menegaskan bahwa persoalan air sumur bor berwarna putih dan berbau menyengat di Desa Ploso Lor, Kecamatan Plosoklaten, tidak bisa disimpulkan secara terburu-buru. Penyebab pasti kondisi air tersebut masih membutuhkan kajian mendalam, dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang ada di lapangan.
Kepala DLH Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengikuti koordinasi dengan DLH Provinsi Jawa Timur. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa hasil uji laboratorium sementara belum mengarah pada satu sumber pencemar tertentu.
“Kemarin kami sudah diundang ke provinsi. Artinya, memang belum bisa disimpulkan penyebabnya berasal dari mana. Tapi memang, kalau melihat latar belakang kawasan Desa Ploso Lor, itu merupakan tanah vulkanik—seperti yang pernah kita rilis sebelumnya. Dan dari hasil laboratorium LHU pertama, memang belum bisa disimpulkan berasal dari industri tertentu,” jelas Putut, Jumat 13 Juni 2025.
Ia menambahkan, kandungan logam seperti zat besi (Fe) dan mangan (Mn) ditemukan di banyak titik, sehingga tidak bisa langsung dikaitkan dengan aktivitas industri tertentu. Selain itu, sejumlah faktor alamiah juga menjadi pertimbangan penting dalam kajian.
“Hampir semua sampel mengandung unsur Fe dan Mn yang tersebar di berbagai lokasi. Ini artinya penyebabnya bisa berasal dari banyak faktor, termasuk curah hujan yang tinggi, kondisi tanah vulkanik yang asam, serta sanitasi dan saluran diskar,” jelasnya.
Meski demikian, DLH tetap menaruh perhatian besar terhadap keluhan masyarakat. Putut menyampaikan bahwa saat ini pemerintah bersama PG Pesantren tengah melakukan pengeboran lanjutan di 17 titik sumber air. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan kualitas air yang aman bagi warga.
“Rencana ke depan ini dari kegiatan yang sekarang. Pengeboran dilakukan di 17 titik sebagai bentuk partisipasi PG Pesantren. Sementara dari Pemkab, ini masih dalam tahap perumusan kebijakan,” katanya.
REPORTER : ONAIR


Post a Comment