Tegaskan Tindak Tegas Penimbun, Satgas Pangan Polri Pantau Bapok di Kediri

RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI - Bulan ramadan dan menjelang hari raya idul Fitri, Satuan Tugas (Satgas) Pangan Mabes Polri bersama sejumlah instansi melakukan pemantauan bahan pokok (bapok) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Rabu 4 Maret 2026.
Hasilnya, secara umum stok pangan dinyatakan aman dan harga relatif terkendali, meski komoditas cabai rawit merah masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).
Monitoring dilakukan oleh tim gabungan dari Satgas Pangan Pusat Bareskrim Polri, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satgas Pangan Polda Jawa Timur, Korem, Satgas Pangan Polres Kediri dan dinas terkait, serta perwakilan asosiasi petani dan pengelola pasar.
Kepala Posko Satgas Saber Pelanggaran Pangan Mabes Polri, Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho, mengatakan pemantauan dimulai dari Pasar Pahing (Pono Kromo), kemudian dilanjutkan ke sentra produksi cabai di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri
“Dari pantauan kami untuk komoditas pangan, alhamdulillah stok cukup aman. Harga sebagian besar masih sesuai HET maupun HAP. Hanya cabai rawit merah yang masih agak di atas HAP,” kata Brigjen Pol Zain.
Di Pasar Pahing, harga cabai rawit merah tercatat berkisar Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara di tingkat petani, harga berada di kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram.
Menurut Brigjen Pol Zain, dari pantauannya, kenaikan harga dipengaruhi curah hujan tinggi dan serangan hama yang menyebabkan sebagian petani gagal panen, terutama di daerah rendah yang terdampak genangan air sejak masa tanam September lalu.
“Produksi menurun, sementara menjelang puasa dan Idul Fitri permintaan meningkat. Hukum pasar tentu berlaku, ketika pasokan terbatas harga terdorong naik,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah telah melakukan sejumlah langkah stabilisasi, termasuk fasilitasi distribusi pangan oleh Bapanas untuk membantu ongkos kirim dari daerah surplus ke daerah defisit.
Dari hasil pengecekan, distribusi komoditas lintas daerah masih berjalan. Bawang merah, misalnya, didatangkan dari Padang, Nganjuk, Brebes, hingga Bima (NTB). Sedangkan cabai rawit masuk dari Muntilan, Temanggung, dan Mojokerto.
“Para pedagang sudah saling terkoneksi antarwilayah. Jika satu daerah kekurangan stok, pasokan digeser dari daerah lain. Namun karena produksi sedang turun, pasokan tetap terbatas,” kata Brigjen Pol Zain.
Brigjen Pol Zain menambahkan, Jawa Timur, termasuk Kediri, merupakan salah satu sentra produksi cabai yang turut menyuplai kebutuhan luar daerah seperti Jakarta, Cikarang, Tanah Tinggi, hingga Bogor.
Kemudian, terkait kemungkinan adanya permainan harga, Satgas Pangan menegaskan akan menelusuri penyebab kenaikan sebelum mengambil langkah hukum.
Ia mengimbau pedagang tidak menaikkan harga secara tidak wajar di atas HET atau HAP yang telah ditetapkan pemerintah. Masyarakat juga diminta tidak panik dan dapat melaporkan dugaan penimbunan melalui hotline pengaduan Satgas Pangan Pusat.
“Kami tidak hanya melihat dari sisi harga, tetapi juga penyebabnya. Jika ada indikasi penimbunan atau pelanggaran, tentu akan kami tindak sesuai aturan yang berlaku,” tegas Zain.
Sementara itu, ditempat yang sama, Kepala DKPP Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan pengawasan telah dilaksanakan bersama tim Satgas Pangan, melibatkan unsur dari Mabes Polri, Polda, dinas provinsi, hingga jajaran pemerintah kabupaten.
Menurutnya, secara umum ketersediaan stok bahan pangan di Kabupaten Kediri dalam kondisi aman. Harga sejumlah komoditas seperti beras, gula, telur, daging sapi, dan daging ayam masih terpantau normal dan stabil, tidak melampaui harga eceran tertinggi maupun harga acuan pembelian.
“Untuk stok aman. Harga rata-rata masih stabil. Tidak ada yang melampaui harga eceran maupun harga acuan pembelian, kecuali cabai,” jelasnya
Disampaikan Tutik, komoditas cabai menjadi perhatian khusus karena belum memasuki masa panen raya. Tim bahkan meninjau langsung rantai distribusi dari hulu ke hilir, mulai dari lahan pertanian hingga pasar induk.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah lahan milik Pak Ahmad di Desa Kepung, Kecamatan Kepung. Saat ini tanaman cabai baru memasuki panen awal dengan hasil sekitar 30–40 kilogram sekali petik.
Ini masih panen awal. Nanti seminggu lagi bisa petik lagi. Kalau melihat performa tanaman dan produksinya tadi luar biasa. Mudah-mudahan tetap terjaga,” katanya.
Namun, faktor cuaca tetap menjadi tantangan. Curah hujan tinggi berisiko memicu serangan virus dan jamur yang dapat menurunkan produktivitas. Tim dari Mabes Polri juga mengingatkan petani untuk menjaga kualitas tanaman agar hasil tetap optimal.
Meski demikian, harga di tingkat pasar sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kiriman dari luar daerah yang sudah memiliki harga hasil lelang di wilayah asal.
Normalnya, Pasar Induk menerima 6 hingga 10 ton cabai per hari. Namun saat ini pasokan masih berada di kisaran 3–4 ton per hari. Sementara itu, permintaan meningkat seiring momentum Ramadan dan berbagai kegiatan masyarakat.
“Ketika kebutuhan naik sementara pasokan sedikit, tentu harga ikut terdorong naik,” jelasnya
Menurut Tutik, panen raya cabai diperkirakan terjadi pada April hingga Mei. Jika momentum Lebaran bertepatan dengan masa panen raya, harga berpotensi lebih stabil. Namun tahun ini, Lebaran datang lebih awal sehingga fluktuasi harga lebih terasa.
Selain faktor pasokan dan cuaca, keberadaan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) juga disebut turut memengaruhi dinamika pasar. Banyak kendaraan SPPG terlihat berbelanja untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar.
Namun demikian, pemerintah daerah tidak dapat memaksakan pola distribusi tertentu. SPPG memiliki standar harga yang harus dipenuhi dan cenderung mencari harga yang lebih kompetitif, termasuk membeli langsung dari produsen.
“Kalau memaksa SPPG belanja ke pasar tradisional agak sulit. Mereka punya standar harga tertentu. Ini bagaimana pedagang bisa membuat strategi yang menarik supaya tetap kompetitif,” jelasnya.
Terkait pengawasan menjelang Lebaran, Kepala DKPP memastikan pihaknya melakukan pemantauan harga setiap hari dan turun langsung ke lapangan secara berkala. Sementara itu, kunjungan tim pusat bersifat situasional dan bergantung pada perkembangan nasional.
“Mereka melihatnya skala nasional. Daerah yang didatangi biasanya sentra-sentra produksi, salah satunya Kediri sebagai sentra cabai. Kunjungan bisa mendadak seperti hari ini dan langsung dievaluasi,” pungkasnya.
REPORTER : ERWIN

Post a Comment