Bersama Sang Suami, Sujinah Pasangan Disabilitas di Kediri Sulap Kain Perca Jadi Bernilai, Bertahan Berkarya Lewat “Trimo Luwung Collection

RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI - Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Sujinah untuk terus berkarya. Di usianya yang kini menginjak 61 tahun, warga Dusun Kebonagung, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri itu tetap aktif memproduksi berbagai kerajinan dari kain perca bersama sang suami, Sugito.
Usaha kerajinan yang diberi nama “Trimo Luwung Collection” tersebut telah mereka jalankan sejak tahun 2016. Dari tangan pasangan disabilitas itu, kain perca disulap menjadi berbagai produk bernilai seperti tas, celemek, dompet, keset, scrunchy hingga jampel atau tas kecil pegangan tangan.
Meski kini menggunakan kursi roda akibat terjatuh pada tahun 2015, Sujinah mengaku tidak ingin menyerah dengan keadaan. Sebelum mengalami kondisi tersebut, dirinya sempat bekerja menjahit pakaian seperti biasa.
“Dulu saya juga jahit pakaian, dulu memang sudah disabilitas pakai alat bantu, sampai tahun 2015 saya jatuh lalu sama dokter diharuskan pakai kursi roda,” ujarnya pada Sabtu 9 Mei 2026.
Namun kondisi itu tidak membuat semangatnya padam. Bersama sang suami yang juga berusia 61 tahun, mereka tetap menjalankan usaha kerajinan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak.
Mulai dari memotong kain, membentuk pola, hingga menjahit, seluruh proses produksi dilakukan sendiri oleh mereka berdua di rumah.
“Nanti saya sama suami yang buat, jahitnya, motong-motong, sekaligus membentuknya sampai jadi,” katanya
Untuk bahan baku kain perca, Sujinah mengaku banyak mendapat bantuan dari teman-temannya berupa pakaian atau kain yang sudah tidak terpakai. Disamping itu juga mengambil kain perca dari jombang, wates, dan Plemahan.
“Kain percanya biasanya ada donasi dari teman-teman, dan kita juga beli dari beberapa daerah yang mau nganter kesini, seperti dari Wates, Jombang, sama Plemahan,” jelasnya.
Dari berbagai produk yang dibuat, keset dan jampel menjadi produk yang paling banyak diminati pembeli. Pemasarannya pun awalnya berkembang secara sederhana dari mulut ke mulut.
“Saya itu punya komunitas teman SMP-SMA, dari situ mereka beli, terus akhirnya ngalir aja dari mulut ke mulut sampai luar kota,” ungkapnya.
Tak hanya di Kediri, produknya bahkan telah dikirim hingga luar daerah seperti Kalimantan. Beberapa pelanggan dari Malang juga kerap membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali.
“Kalau dari Malang biasanya bisa beli sampai 30-35 pcs,” ujarnya.
Meski pemasaran online saat ini semakin berkembang, Sujinah mengaku masih kesulitan menjalankannya sendiri karena keterbatasan kemampuan teknologi. Untuk penjualan daring, ia dibantu oleh anaknya.
“Kalau saya gaptek jadi kurang bisa jualan online, biasanya dibantu anak saya,” katanya sambil tersenyum.
Harga produk yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Untuk tas dibanderol mulai Rp35 ribu hingga Rp45 ribu tergantung ukuran dan model, sedangkan jampel dijual sekitar Rp5 ribu.
Selain pada fokus membuat berbagai macam dari bahan kain perca, Sujinah juga telaten dalam mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang membutuhkan.
"Biasanya yang les itu Ibu-Ibu muda dari luar desa, tapi juga tidak setiap hari," tambahnya.
Ke depan, Sujinah berharap usahanya bisa terus berkembang dengan menghadirkan model-model tas yang lebih beragam sekaligus dapat mengikuti tren pasar.
“Harapannya semoga bisa produksi tas model lain, lebih mengikuti model,” tuturnya.
REPORTER : ONAIR / ERWIN

Post a Comment