Setelah Melalui Proses Panjang Jatuh Bangun Sejak 2010, Produksi Kripik Gadung Asal Banyakan Kediri Kini Tembus Luar Kota

RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI - Berawal dari menjual produk milik tetangga pada tahun 2010, Abdul Ghofur, warga Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, kini sukses mengembangkan usaha kripik gadung yang produknya dipasarkan hingga berbagai daerah luar kota.
Ghofur, umur 46 tahun tersebut, mengaku awalnya dirinya hanya membantu memasarkan produk kripik gadung milik tetangganya. Namun karena melihat produk tersebut laku di pasaran, ia bersama istrinya mencoba memproduksi sendiri.
“Awalnya tahun 2010 saya bawa produk tetangga ternyata laku di pasaran. Terus saya ikutan produksi sendiri,” ujarnya pada Jumat 29 Mei 2026.
Namun perjalanan usahanya tidak berjalan mulus. Di awal produksi, dirinya mengaku sering mengalami kegagalan.
“Tapi ya namanya juga pertama kali produksi yaa mbak sering gagal produksi. Tapi dari itu saya dan istri pelajari terus dengan semangat dan pantang menyerah,” katanya.
Selama kurun waktu 2011 hingga 2015, dirinya terus belajar meningkatkan kualitas rasa dan proses produksi kripik gadung agar mampu bersaing di pasaran.
“Hasilnya hari demi hari makin baik. Nah di tahun 2016 baru hasil produksi gadung kami sudah baik dan lebih digemari di pasaran daripada tahun sebelumnya,” tambahnya.
Tak berhenti sampai di situ, Ghofur terus melakukan inovasi mulai dari kualitas produk, tampilan kemasan hingga melengkapi berbagai perizinan usaha.
Hingga tahun 2026, usaha produksi kripik gadung tersebut masih terus berjalan dan berkembang. Setelah produksi kripik gadung dirasa sudah stabil, dirinya juga memproduksi kripik singkong dan kripik pisang. Meski demikian, produk kripik gadung tetap menjadi produk paling diminati pelanggan.
“Tapi yang paling bestseller tetap kripik gadungnya,” jelasnya.
Untuk pemasaran offline, produknya dipasarkan di pasar tradisional, toko oleh-oleh hingga swalayan. Beberapa titik pemasaran di antaranya Garang Asem Bu Eko Jalan Klenteng, Toko Oleh-Oleh 99 Tinalan, Karta Mart Stasiun Kediri, hingga Candaria di pertokoan Stadion Brawijaya.
Selain itu, dirinya juga memanfaatkan media sosial dan marketplace seperti Shopee, TikTok, Facebook, Instagram, dan WhatsApp untuk pemasaran online.
Tak hanya di Kediri, produk kripik gadung miliknya juga memiliki reseller di berbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta, Bogor, Kalimantan Tengah hingga Pekanbaru.
“Untuk penyetokannya nanti tergantung kalau sana sudah habis dan konfirmasi, lalu kita kirim. Untuk luar kota kami sistemnya cash, tidak titip,” ujarnya.
Produk kripik gadung miliknya juga pernah dipesan oleh sejumlah instansi pemerintahan seperti Dinas Koperasi dan UMKM, Disperindag, hingga DPMBD.
Meski usahanya terus berkembang, Ghofur mengaku masih menghadapi kendala dalam permodalan. Selain itu, dirinya juga belum sempat melakukan promosi melalui live streaming karena keterbatasan waktu dan anggaran untuk merekrut admin khusus.
“Kendalanya saat ini cuma permodalan sih kak. Untuk live streaming belum juga karena waktunya belum ada sama anggaran nya masih belum ada,” katanya.
Dalam proses produksinya, kini dirinya sudah menggunakan mesin rajangan yang membuat pekerjaan lebih ringan dan cepat dibanding sebelumnya yang masih dilakukan secara manual.
"Alhamdulillah sekarang kita sudah punya alat rajangan. Kalau dulu kan masih manual kak," ujar Ghofur.
Bahan baku gadung sendiri bersifat musiman dan hanya dipanen satu tahun sekali, tepatnya pada bulan Juni hingga Agustus. Karena itu, dirinya harus memproduksi dalam jumlah besar untuk stok hingga musim panen berikutnya.
“Kami setiap hari produksi. Kalau musim panen harus bikin stok sebanyak mungkin sampai musim depan,” jelasnya.
Dalam sekali pengambilan bahan baku, jumlahnya bisa mencapai kuintalan hingga ton. Saat musim produksi besar, dirinya bahkan membutuhkan hingga 14 pekerja untuk menyelesaikan proses produksi.
Sementara dalam kondisi normal, jumlah pekerja berkisar antara dua hingga delapan orang tergantung banyaknya bahan yang datang.
Untuk proses produksi kripik gadung sendiri membutuhkan waktu sekitar enam hari hingga siap dikonsumsi. Sebelum dimasak, gadung dijemur selama satu hari, kemudian setelah dimasak kembali dijemur selama dua hari.
Dengan usaha yang telah dirintis selama belasan tahun tersebut, Ghofur berharap kripik gadung bisa semakin dikenal luas sebagai makanan tradisional khas Indonesia.
“Tentu kami ingin ekonomi keluarga lebih baik, selain itu juga ingin melestarikan warisan leluhur. Harapannya ke depan bisa lebih digemari masyarakat luas bahkan sampai mancanegara,” pungkasnya.
REPORTER : ONAIR

Post a Comment