Walau Jumlah Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Kediri Menurun, Sisanya Masih Ada Ribuan Anak
RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI - Kabar menggembirakan terkait pendidikan dating dari Kediri. Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kediri menunjukkan penurunan signifikan dalam hampir satu tahun Terakhir
Dari semula mencapai 11.181 anak berdasarkan data cut off Dapodik Oktober 2025, 1qqkini jumlah ATS tersisa sekitar 5.200 anak.
Penurunan tersebut menjadi salah satu capaian Pemerintah Kabupaten Kediri dalam upaya mengembalikan anak-anak yang tidak sekolah agar kembali mendapatkan akses pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin mengatakan, berbagai strategi dilakukan untuk menekan angka ATS, mulai dari kunjungan langsung ke rumah hingga melibatkan guru dan tenaga kependidikan untuk mencari anak yang belum bersekolah.
Salah satu program yang dijalankan saat ini adalah home visit ATS Award. Melalui program tersebut, guru, tenaga kependidikan, masyarakat hingga organisasi perangkat daerah (OPD) dilibatkan untuk mendatangi langsung rumah anak yang masuk dalam data ATS.
"Dari Oktober, November sampai Februari itu bisa menurunkan hingga ribuan. Kemudian kita lanjutkan lagi dengan Gerakan Satu GTK Satu ATS," kata Muhsin saat dikonfirmasi, Selasa (25/8/2026).
Program tersebut kemudian diperkuat melalui Gerakan Satu GTK Satu ATS. Setiap guru, kepala sekolah maupun tenaga kependidikan didorong membantu menemukan sedikitnya satu anak tidak sekolah untuk kemudian diarahkan kembali ke jalur pendidikan.
Gerakan tersebut mulai digencarkan sejak Mei 2026 bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Upaya penjangkauan kemudian dilanjutkan pada Juni dan Juli melalui kegiatan home visit.
Hasilnya, hingga Juli 2026 penurunan jumlah ATS di Kabupaten Kediri telah mencapai sekitar 51 persen. Capaian tersebut bahkan hampir memenuhi target penurunan ATS yang ditetapkan pemerintah pusat.
Target dari kementerian dalam satu tahun harus turun sampai 50 persen. Kita sudah hampir mencapai, bahkan mudah-mudahan sampai akhir tahun bisa 60 sampai 70 persen," jelasnya.
Meski angka ATS berhasil ditekan hampir separuh, pekerjaan rumah pemerintah daerah masih cukup besar. Sekitar 5.200 anak masih tercatat dalam data ATS dan sebagian di antaranya bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal.
Muhsin mengatakan, kelompok anak yang belum pernah bersekolah tersebut cukup banyak berasal dari anak berkebutuhan khusus (ABK). Selain itu, terdapat pula anak yang tinggal di pondok pesantren dan mengikuti pendidikan salaf, tetapi belum tercatat dalam sistem pendidikan formal.
"Yang sekitar 5.000 ini didominasi anak-anak yang belum pernah bersekolah. Banyak juga ABK dan anak-anak yang mondok di pesantren salaf, tetapi tidak terdaftar di Dapodik maupun EMIS," ungkapnya.
REPORTER : ONAIR/AK


Post a Comment