Satukan Warga Lewat Tradisi dan Nilai Toleransi, Desa Dorok Kecamatan Puncu Gelar Kirab Budaya Agung

RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI - Bulan Suro kembali menjadi momentum masyarakat Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat kerukunan. Kegiatan ini berlangsung mulai pagi sampai siang, Minggu 12 Juli 2026.
Rangkaian acara tersebut diawali dengan bersih Dusun yang dilakukan di area punden, kemudian di lanjutkan dengan proses mengarak delapan gunungan hasil bumi dimulai dari gapura dusun menuju Candi Dorok sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada para leluhur, serta upaya melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Dusun (Kasun) Dorok, Nardiono, mengatakan Kirab Agung Budaya tahun ini menjadi penyelenggaraan kelima dan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu hanya terdapat empat gunungan, kini jumlahnya bertambah menjadi delapan."Ada peningkatan per tahunnya.
tahun Kemarin empat, sekarang sudah delapan. Nanti kalau semua RT itu bisa guyup, nanti enam belas lebih perkiraan," ujarnya.
Dalam prosesi acara kirab tersebut, terdapat peletakan batu yang dinamakan pamuncak. Dulunya, diatas candi yang ada di Dorok terdapat pamuncak yang di lakukan oleh seorang legendaris.
"Ini bukan hanya bentuk simbolik, karena sudah di sini dari dulu. Kalau kita telaah kedalam, ini bukan orang sembarang yang ada di sini. Sebenarnya raja, kita tidak berani menyebutkan itu raja," ujar Kasun.
Menurutnya, pelaksanaan kirab juga menjadi bentuk nyata pelestarian budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda.
"Tujuan utama kegiatan ini adalah nguri-uri budaya. Kita hidup di tanah Dusun Dorok tidak lepas dari jasa para leluhur. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi," katanya.
Nardiono juga menambahkan, prosesi kirab turut melibatkan tokoh dari tiga unsur agama sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman yang selama ini hidup berdampingan di Dusun Dorok. Ke depan, pelaksanaan kirab direncanakan akan berjalan lebih kondusif dan baik lagi.
Sementara itu, anggota Paguyuban Pusaka Daha Kediri, Nila Yusia, mengatakan Kirab Agung Budaya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang untuk mempererat persaudaraan di tengah perbedaan.
"Alhamdulillah selama lima tahun berturut-turut kirab ini bisa terus dilaksanakan. Dengan adanya kegiatan ini masyarakat Dorok semakin guyub, toleransi antarumat beragama semakin kuat dan kerukunan tetap terjaga," jelasnya.
Ia menerangkan Candi Dorok memiliki makna filosofis sebagai simbol persatuan, bukan hanya milik kelompok atau agama tertentu.
"Nilai yang ingin kami jaga adalah bahwa Candi Dorok menjadi simbol yang mempersatukan. Semua masyarakat bebas merasa memiliki dan bersama-sama melestarikan warisan budaya ini," ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Kediri turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri melalui Staf Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan, Ahmad Khudori, mengapresiasi konsistensi masyarakat Dusun Dorok dalam menjaga tradisi budaya yang dipadukan dengan nilai-nilai kebersamaan.
Menurutnya, kegiatan seperti Kirab Agung Budaya Dorok menjadi bagian penting dalam pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Kabupaten Kediri.
"Kami mengapresiasi semangat masyarakat Dusun Dorok yang terus melestarikan tradisi ini. Harapannya kegiatan seperti ini dapat terus berkembang, menjadi daya tarik budaya sekaligus mengajak generasi muda untuk semakin mengenal, menjaga, dan mencintai warisan budaya daerah," pungkasnya.
REPORTER : ONAIR/AR


Post a Comment