Warga Lereng Kelud Kecamatan Puncu Menolak Adanya Tambang Pasir, Minta Aktivitas Tambang Dievaluasi
RADIOONAIRFMPARE.COM || KEDIRI -Kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih dirasakan warga di lereng Gunung Kelud khususnya Desa Satak dan Desa Puncu, Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri.
Warga berharap aktivitas penambangan pasir di kawasan tersebut mendapat perhatian dan evaluasi dari pihak berwenang agar keberadaan sumber mata air tetap terjaga.
Kekhawatiran itu kembali disuarakan puluhan warga Lingkungan Yani, Desa Satak pada Minggu (9/8/2026) pagi.
Sejak pukul 06.30 Wib, mereka melakukan kerja bakti memperbaiki saluran pipa air bersih yang mengalami kerusakan sekaligus membentangkan spanduk berisi seruan menjaga mata air.
Spanduk tersebut bertuliskan, Stop Penambangan Pasir, Warga Kecamatan Puncu Menolak Adanya Tambang Pasir, Selamatkan Mata Air, Lindungi Lingkungan, Jaga Masa Depan.
Warga menyampaikan kekhawatiran tersebut setelah beredar informasi mengenai kemungkinan aktivitas penambangan pasir dari PT Empat Pilar Anugerah Sejahtera (EPAS) kembali berjalan.
Sebelumnya, aktivitas penambangan di kawasan tersebut disebut telah dihentikan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur pada 2025.
Ketua RW 01 Lingkungan Yani 1 Desa Satak, Mujianto (74) mengatakan kerja bakti dilakukan untuk memperbaiki pipa saluran air yang bocor sekaligus menjaga keberlangsungan jaringan air yang selama ini digunakan warga.
Menurutnya, debit sumber air yang dimanfaatkan masyarakat dirasakan semakin berkurang. Kondisi tersebut membuat warga khawatir kebutuhan air bersih akan semakin sulit dipenuhi ketika memasuki musim kemarau.
"Kerja bakti ini kami lakukan untuk memperbaiki pipa saluran air sekaligus menyetop penggalian pasir di wilayah Damarulan. Sumber air di sini semakin mengecil. Kalau musim kemarau tiba, warga Desa Satak dan Puncu bisa kekurangan air minum," kata Mujianto.
Mujianto menyebut aktivitas pengerukan lahan selama beberapa tahun terakhir juga berdampak pada kondisi jaringan pipa air warga. Menurut dia, sejumlah bagian tebing mengalami longsor sehingga pipa yang dibangun secara swadaya masyarakat ikut terdampak.
Ia juga menceritakan bahwa kawasan tersebut sebelumnya pernah dilakukan penghijauan dengan penanaman sekitar 1.000 pohon. Warga berharap kondisi lingkungan di sekitar sumber mata air tetap mendapat perhatian agar tidak semakin rusak.
"Dulu kawasan ini pernah ditanami 1.000 pohon penghijauan, tapi habis ditebangi. Pohon peneduh di tepi sungai seperti jati dan mahoni juga ditebang. Sejak aktivitas tambang masuk, tanah dikeruk hingga pipa-pipa air kami berjatuhan," ujarnya
REPORTER : ONAIR/AK


Post a Comment